-->

Lainnya Toggle

7 Bapak Bangsa

bapak bangsaEditor       : Iswara N Raditya
Penulis     : Iswara N Raditya, M. Rodhi As’ad,     Muhammadun AS, Muhammad Iqbal, M Syafiq Sairozi, Upik Diah Eka
Cetakan I: Agustus 2008
Penerbit  : I:BOEKOE
Tebal        : 688 hlm
Ukuran    : 15 x 24 cm (hard cover)
Harga     : Rp 200.000

”Tujuh Bapak Bangsa” membincangkan hal-ihwal bapak dan kebangsaan nasional, mengulik peran mereka dalam menggagas, membentuk, serta membangun Indonesia. Masing-masing dari bapak bangsa memiliki ciri khas dan spesialisasi tersendiri dalam bidang pergerakannya. Ranah yang dianggap layak dijamah sebagai medan perjuangan mereka meliputi: pers, politik, pendidikan, ekonomi, revolusi, militer, dan pembangunan.

Sedangkan para peneguh yang dinilai tepat dalam masing-masing bidang itu adalah Tirto Adhi Soerjo, HOS Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Mohammadd Hatta, Soekarno, Soerdirman, dan Soeharto.

Sebagai Sang Pemula tampillah  Tirto Adhi Soerjo (1880-1918). Dialah Bumiputera yang pertama-tama menyuluh dan membela rakyat tertindas melalui kuasa pers atau media massa. Medan Prijaji yang diawakinya menjadi suratkabar advokasi untuk membela kepentingan rakyat. Dan untuk pertama kalinya di Indonesia, pers berperan penting dalam memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada rakyat yang terjajah.

Sebagai penerus pergerakan politik Tirto, nama hadji Oemar Said Tjokroaminoto (1882-1934) mulai melejit pada awal 1913. Dia adalah penggerak massa terbesar dan terorganisir pertama yang pernah ada di Indonesia.

Ketika Tjokroaminoto sedang memulai masa-masa jayanya, seorang pangeran dari Kraton Pakualaman berteriak dan membikin geger dunia kolonial. Beringsut dari Jogjakarta ke Bandung, Soewardi Soerjoningrat (1889-1959) menabalkan dirinya sebagai ksatria pribumi yang paling pemberani. Soewardi menggebrak pemerintah dengan tulisan legendarisnya yang berjudul ”Als ik eens Nederlander Was” atau ” Seandainya Saya Seorang Belanda”. Akibat keberanian itu, Soewardi lantas dibuang ke Belanda pada 1913, dan baru kembali ke tanah air pada 1919. Pada tahun-tahun pertama dekade ketiga abad ke-20, Soewardi mendadak beralih jalur . Dia tidak lagi radikal dan menerapkan perjuangan dengan cara yang lebih bijak. Soewardi mendirikan Taman Siswa dan mengubah namanya menjadi ki Hajar Dewantara. Sejak itu pula, predikat ”Bapak Pendidikan Indonesia” mulai meresap ke nama besarnya.

Dari Soewardi, kisah berlanjut ke dwitunggal Soekarno-Hatta. Kedua pemimpin berjalan di masa yang seiring, setingkat di bawah Tjokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara, Soekarno-Hatta seringkali padu namun tak jarang pula bertolak belakang. Ketika Indonesia menyetakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, dwitunggal inilah yang menjadi proklamatornya, atas nama bangsa Indonesia, dan berlanjut dengan terpilihnya kedua tokoh itu menjadi presiden dan wakil presiden RI yang pertama.

Penggalan sejarah Indonesia pascakemerdekaan tak lepas dari Soedirman, seorang anak desa yang namanya melambung besar lewat jalur militer. Panglima Besar Jenderal Soedirman sangat menentang perjuangan dengan jalur diplomasi dengan Belanda yang dilakoni oleh para pemimpin sipil RI. Dengan kondisi tubuh yang sakit parah, Soedirman tetap memimpin perang gerilya hingga akhirnya Presiden Soekarno dan Sri sultan Hamengku Buwono IX memintanya menghentikan pertempuran dengan disepakatinya penyerahan kedaulatan secara penuh dari kerajaan Belanda kepada Indonesia pada 1949.

Pasca peristiwa berdarah September 1965, ketika akhirnya presiden Soekarno terpelanting dari singgasananya, arus politik mengantarkan Soeharto menduduki tahtanya sebagai presiden RI yang kedua. Di bawah Soeharto, Indonesia berkonsentrasi pada peningkatan ekonomi dan pembangunan. Swasembada pangan yang berhasil dicapai pada 1985 melejitkan namanya sebagai salah seorang kepala negara berkembang yang paling sukses. Terlepas dari segala kontroversi dan intrik yang senantiasa mengikuti Soeharto sejak turun jabatan hingga pungkasan napasnya, peran sang jenderal dalam membangun Indonesia tetap tak terbantahkan, bahkan dunia pun mengakuinya.

————————————

BUKU INI DICETAK TERBATAS. TERTARIK? BEGINI CARA PEMESANANNYA:

1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku yang beralamat sama dengan Indonesia Buku.
2. Bagi yang memesan via ponsel 0888-6854-721 (MBAK NURUL HIDAYAH) dan/atau surel (iboekoe@gmail.com), mohon menyebutkan judul dan jumlah eksemplar yang diinginkan. Buku langsung dikirim ke alamat pemesan jika pembayaran sudah ditransfer ke rekening Indonesia Buku.
3. Rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan