-->

Penerbit Toggle

Riwayat Percetakan Arnoldus Ende

Penderitaan, kemiskinan, kemelaratan—juga keterbelakangan—merupakan cap yang sampai kini masih melekat pada wilayah Indonesia bagian timur, seperti Pulau Flores dan daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur.

Namun, itu bukan akhir harapan. Percetakan Arnoldus Ende di Kota Ende, yang merupakan percetakan pertama di Pulau Flores, bisa membuktikannya.

Percetakan yang berdiri 80 tahun lalu, tepatnya pada 1926, merupakan unit perusahaan PT Arnoldus Nusa Indah (PT ANI) yang sampai sekarang tetap berkibar. Bahkan, percetakan ini terus berkembang dengan segala tantangan dan tingkat kompetisi yang makin berat.

Di satu sisi, percetakan ini juga mengemban misi membantu pewartaan gereja lokal di Flores. Akan tetapi, publikasi umum—termasuk buku-buku pendidikan dan filsafat—merupakan ranah penerbitan yang banyak ditopang tenaga-tenaga ahli rohaniwan itu. Dengan demikian, Percetakan Arnoldus juga berkembang bukan semata-mata menjalankan usaha bisnis, tetapi juga pendidikan dan kerohanian.

“Kendala yang kami hadapi cukup berat, yakni masalah sumber daya manusia dan ketertinggalan dalam hal teknologi,” kata Koordinator Divisi Percetakan Arnoldus Ende, Bruder Yakobus Pajo SVD.

Jumlah karyawan percetakan di Jalan Katedral No 5, Ende, ini semula hanya 20 orang, kini sudah menjadi 65 orang. Jumlah ini sudah berkurang beberapa orang karena ada yang dipindah ke unit perusahaan lain, atau telah memasuki masa pensiun.

Percetakan Arnoldus merupakan salah unit usaha PT ANI. Unit usaha yang lain, yaitu Toko Buku dan Penerbit Nusa Indah, harian Flores Pos, bengkel kayu dan besi, serta sebuah sanggar rekaman lagu. Dengan segala keterbatasan peralatan percetakan dan SDM, beban percetakan juga tak ringan. Apalagi terkait perubahan struktur perusahaan yang dilakukan pada Oktober 2005.

Perubahan struktur yang dimaksud berupa penggabungan semua unit usaha dalam satu garis komando. Konsekuensinya, unit yang “basah” akan membantu kelangsungan unit yang “kering”. “Dari sekian unit, yang menerima order secara kontinu dan relatif besar dalam hal pemasukan adalah percetakan dan bengkel kayu,” ujarnya.

Percetakan Arnoldus kini telah membuka cabang di Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat) dan Lewoleba (Kabupaten Lembata), serta di Kota Kupang. Percetakan di tingkat cabang hanya melayani bidang pekerjaan kecil, seperti penjilidan serta fotokopi. Pesanan dengan oplah besar akan ditangani di Ende.

Pesaing

Di sisi lain, dengan mulai masuknya pesaing di wilayah NTT, Bruder Pajo menyatakan hal ini bukan menjadi petaka, melainkan justru pemicu untuk terus meningkatkan kualitas, kreatif, dan inovatif.

Percetakan yang berdiri di NTT umumnya hanya memasang nama atau bendera, sementara untuk produksi mereka masih bekerja sama dengan percetakan besar di Jawa. Hal ini tentu akan berdampak pada harga, sehingga pesaing demikian tak terlalu menakutkan bagi Percetakan Arnoldus.

Meski harga cetak penerbit yang “berafiliasi” ke percetakan di Jawa lebih murah, hal ini dapat disiasati dengan selisih harga tak terlalu besar, jaminan kualitas yang tak mengecewakan, serta order diselesaikan dalam waktu cepat.

“Kami bisa menyiasatinya dengan mengambil keuntungan sedikit saja, sebab tak dapat dimungkiri untuk bahan baku kami harus mengambil dari Jawa. Sementara percetakan di Jawa tanpa harus mengeluarkan ongkos ekspedisi, karena bisa mendapatkan bahan di tempat. Tapi, jangan lupa, terkadang tak disadari oleh pemesan, mereka bisa mengeluarkan biaya yang tak terduga. Misalkan, kalau ada masalah dalam percetakan di Jawa, atau harus mengalami perubahan, bukankah pemesan akan menghubungi percetakan itu? Biaya interlokal, kan, besar,” kata bruder yang pernah ditugaskan di Australia ini.

Selain menerima order dari swasta, Percetakan Arnoldus juga banyak menerima pesanan dari dari BUMN, serta pemerintah daerah di Flores. Order dari pemda biasanya dari dinas pendidikan, dinas pendapatan daerah, serta rumah sakit umum daerah (RSUD). Namun, order terbanyak percetakan ini menyangkut buku-buku rohani.

Selain itu, percetakan ini juga bekerja sama dengan PLN Cabang Flores Bagian Timur, serta BNI Cabang Flores Bagian Barat dan Timur. Pada Pemilu 2005, percetakan ini juga melayani pesanan dari komisi pemilihan umum daerah (KPUD) untuk pencetakan surat suara. Surat suara itu untuk pemilihan kepala daerah di Kabupaten Ngada dan Manggarai Barat.

“Dengan demikian, peluang di bidang percetakan masih tetap terbuka lebar. Tinggal bagaimana membaca peluang tersebut dan meraihnya. Tenaga pemasaran memang harus kuat dan jeli,” katanya.

Nama Arnoldus

Nama Arnoldus mengambil nama dari Beato Arnoldus Janssen, pendiri ordo SVD (Societas Verbi Divine). Pemilihan nama Arnoldus dijadikan sebagai pelindung percetakan ini. Cetakan pertama pada 21 Juni 1926 berupa buku doa yang disusun dalam bahasa Melayu. Buku itu berjudul Sende Aus yang artinya Utuslah.

Pemrakarsa pendirian percetakan adalah Pater Petrus Noyen SVD, yang merupakan pretek apostolik pertama di wilayah Nusa Tenggara. Pater Noyen kala itu didukung oleh Pater Frans D Lange SVD.

Beroperasinya Percetakan Arnoldus pada waktu itu juga tak lepas dari bantuan Percetakan St Mikael di Steyl, Jerman. Mesin cetak dari Steyl tiba di Pelabuhan Ende pada April 1926. Satu bulan kemudian, dua pekerja yang bertugas sebagai tenaga pencetak di bawah pimpinan Bruder Viatori dari Shanghai tiba di Ende.

Mesin-mesin yang dikirim pada saat itu antara lain mesin cetak Boston, lalu masing-masing satu mesin susun tipograf, segel pres, mesin jilid kawat, dan mesin potong kertas.

Berikutnya, tercatat dalam kurun waktu 1947-1954 juga didatangkan satu mesin susun linotype, satu mesin perforasi, dan mesin jahit penjilidan. Lalu, pada tahun 1974, percetakan ini juga melakukan modernisasi dengan mendatangkan dua unit mesin ofset.

“Mesin yang kami pakai ada yang dari Jerman, Jepang, dan pernah Cekoslowakia. Bahkan, sampai sekarang ada satu unit yang masih digunakan, yaitu mesin cetak yang pernah digunakan Harian Kompas. Kendala yang kami hadapi soal teknologi, mesin percetakan biasanya mesti diganti setiap sekitar tiga tahun. Tapi, karena keterbatasan modal, kami menggantinya lebih lama, paling tidak sampai lima tahun baru ganti,” tutur Pajo.

Bruder Pajo, yang juga pernah ditugaskan di Papua Niugini (1998), mengungkapkan bahwa tahun lalu Percetakan Arnoldus baru membeli mesin dari Jepang seharga Rp 500 juta serta tiga unit mesin cetak warna seharga Rp 1 miliar. Adapun omzet Percetakan Arnoldus dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir mencapai sekitar Rp 1 miliar per tahun.

“Tetapi, alat-alat yang baru kami beli itu sebenarnya masih tertinggal juga jika dibandingkan dengan teknologi percetakan di Jawa yang sudah mampu mencetak empat warna sekali kerja. Sedangkan yang kami miliki saat ini baru dua warna,” ungkapnya.

Kendala lain yang dihadapi percetakan ini menyangkut SDM. Menurut Bruder Pajo, tenaga kerja percetakan di Flores tidak siap pakai. Dia mencontohkan, lulusan SMK di Ende belum ada yang memiliki spesifikasi di bidang grafika.

“Kalau di Jawa tak susah mencari tenaga grafika. Seperti di Jakarta ada SMK Budi Mulia. Dengan demikian, kalau kami merekrut tenaga teknik lokal harus dididik lagi. Ini jelas membutuhkan waktu. Tetapi, bagaimanapun harus kami lakukan, sebab sesuai misi awal, antara lain adalah sebagai bentuk tanggung jawab sosial memberdayakan masyarakat Flores yang tertinggal,” ujar bruder yang pernah menjabat Wakil Manajer Percetakan Arnoldus Ende.

Adapun untuk mengejar ketertinggalan teknologi, salah satu upaya yang sedang dipikirkan adalah pembelian mesin berteknologi baru dengan bantuan modal dari bank.

“Tetapi, upaya ini masih kami pertimbangkan secara hati-hati. Memang sudah ada pembahasan dengan pihak bank. Namun, dengan pinjaman yang besar, maka dituntut konsekuensi kerja lebih keras untuk dapat mengembalikan pinjaman. Lagi pula, yang menjadi kendala saat ini adalah mental dan budaya kerja karyawan belum siap,” ujar Direktur Utama PT ANI, Bruder Gerinus Sanda SVD.

* Digunting dari Harian Kompas Edisi 23 November 2006

4 Comments

FX. RAUL - 26. Jul, 2009 -

tidak komit dalam membuat perjanjian mengenai diskon dan masih ada unsur titipan oleh pejabat terkait ( panitia ), bagaimana mau membangun dan meningkatkan kualitas, kreatif, dan inovatif. jika harga tidak jelas, seperti dikatakan bagian produksi bahwa pihaknya akan bayar royalti ke pengarang berarti kami berhak untuk mencetak kalau begitu.

FX. RAUL - 26. Jul, 2009 -

karena bagian produksi pernah berkata melalui ponsel mengatakan kalau minta diskon sama pihak user, bagaimana mungkin seorang user bisa memberi diskon kepada peserta atau yang akan memeli buku ( arti user adalah samadengan panitia lelang atau pejabat setempat )

FX. RAUL - 26. Jul, 2009 -

Diskon dari pihak penerbit ende tidak pernah ada bertentangan dengan UU pendidikan karena penerbit berhak memberikan diskon 40% kalau tidak ada berarti ada titipan seseorang / user / panitia / pejabat terkait karena kami masih ingat apa yang perna di katakan pihak / bagia produksi mengatakan karena permintaan dari panitia lelang harga jangan di kasih diskon.

Yohanes Windi - 31. Mar, 2011 -

Hallo publisher,
Saya ingin menerbitkan hasil thesis dari University of Melbourne dalam bentuk buku. Thesis saya tentang bagaimana Ume Kbubu di Timor membentuk Health belief dan practices masyarakat dawan.Apakah harus di Indonesiakan atau tetap bahasa inggris saja. APakhah terbitan Arnoldus memiliki ISBN nantinya.

Thank

Yohanes Kambaru Windi, S.Pd., M.Kes., MPH
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya
Jl. Pucang Jajar Tengah 56 Surabaya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan