-->

Kronik Toggle

Jogja, Sebelas Taman Bacaan Resmi Buka

Sebelas taman baca yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan Klaten, Jawa Tengah, diresmikan secara simbolik, dipusatkan di SD Negeri Karang Tengah Baru di Desa Karang Tengah, Imogiri, Bantul, Sabtu (19/1). Ke-11 taman baca tersebut dibangun dari dana bantuan Pemerintah Kerajaan Belanda bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri serta Yayasan Taman Bacaan Indonesia.

Soehardjono Sastromihardjo, Direktur Informasi dan Media Departemen Luar Negeri, mengatakan, tahap awal ke-11 rumah baca itu masing-masing akan diberikan 1.500 judul buku. Setiap judul buku akan diberikan dua eksemplar sehingga total 3.000 buku.

Menurut Andri Hadi, Direktur Umum Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri, jumlah buku sumbangan akan terus ditingkatkan. Budaya baca perlu ditingkatkan karena sudah mulai luntur. Anak sekarang lebih menyukai tayangan televisi.

“Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca kita semua seperti menjelajah dunia tanpa perlu benar-benar berkeliling dunia. Selain itu, kita dapat juga mengenal berbagai cerita dan pengetahuan tentang berbagai negara yang letaknya ribuan kilometer dari Bantul,” ungkapnya kepada siswa SDN Karang Tengah.

Rethy Alexandra Sukardi, Ketua Yayasan Taman Bacaan Indonesia, menambahkan, rendahnya minat baca anak-anak disebabkan tidak adanya sarana dan prasarana yang memadai. Dengan membangun rumah baca ini, diharapkan anak-anak bisa mengenal luasnya dunia. “Kalau tidak dikenalin dulu, bagaimana mereka bisa cinta membaca,” ujarnya.

Buku-buku yang diberikan antara lain buku geografi, sejarah, bahasa, dan pengetahuan umum. Sebagian buku berbahasa Inggris, tetapi bahasa Inggris yang sederhana, dengan banyak gambar, mengingat pembaca buku itu adalah siswa tingkat sekolah dasar.

Ke-11 rumah baca itu dirupakan dalam bangunan di samping sekolah yang didirikan pascagempa Mei 2006, kecuali untuk SDN Karang Tengah Baru. “Karena terbatasnya lahan sekolah, taman baca SDN Karang Tengah Baru terpaksa dibangun di lokasi yang berjauhan dengan sekolah, berjarak sekitar 200 meter,” ujar Erna, Kepala Sekolah SDN Karang Tengah.

* Digunting dari Harian Kompas Edisi Jogjakarta 21 Januari 2008

1 Comment

beny - 22. Jan, 2008 -

AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI

http://www.duniasastra.com

Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.

Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.

Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : ” Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan”. Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : ” Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?”…”Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!…Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !”

Memang aku telah mendaki “puncak-puncak perbukitan” dan sering pula aku mengembara dalam “kesunyian ” hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu “turun” dari puncak pegunungan.

Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.

Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju “lorong penderitaan” sekaligus teman keagungan spiritual…..

Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.

Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .

Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.

Jangan pernah menyesal karena kalian ‘buta’ dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian ‘tuli’, sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.

Dan segala yang “tak berbentuk” selalu berusaha mencari “bentuknya”, seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari…

Dan kulihat…….Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.

Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.

Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !

Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan