-->

Lainnya Toggle

Selamat Datang Blog(er) Buku!

Oleh Muhidin M Dahlan

Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium baru yang lebih egaliter dan lebih leluasa. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku masing-masing koran tersebut, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa takut tulisannya ditampik.

Pendatang baru ini adalah bloger. Mereka sebetulnya sudah membiak di tahun-tahun awal alaf ini seperti yang dilakukan Omi Intan Naomi, Andreas Harsono, Agus Sopian, dan beberapa penulis melek teknologi informasi. Tapi saat itu membuat blog masih dianggap kerja elite dan belum menjadi “makanan sehari-hari”. Yang lebih heroik adalah berdiskusi, demonstrasi, dan sesekali menulis di koran-koran nasional.

Kehadiran mereka benar-benar diperhitungkan tatkala majalah prestisius TIME memilih sosok tahun 2006 jatuh pada: YOU. Majalah TIME membaptis secara khidmat hadirnya generasi baru yang menggunakan fasilitas-fasilitas “maya” seperti You Tube, Blog, Friendster, dan sebagainya, untuk meneguhkan dirinya di hadapan dunia.

Generasi ini datang untuk merayakan sebuah buana yang bisa dilihat secara bebas, personal, dan kapan pun bisa disiarkan kepada komunitas publik yang disukainya.

Di Indonesia, belum banyak yang benar-benar menggunakan blog secara khusus sebagai arena dan panggung untuk membicarakan dan mengadukan pergulatannya dengan buku. Umumnya blog yang tersedia berisi banyak soal, keluhan, dan tangis-tangis kecil tentang hidup, dan umumnya tak fokus.

Beberapa blog yang serius menggarap resensi buku yang patut disebut antara lain milik Endah Sulwesi (perca.blogdrive.com/Jakarta), Indahjuli SIbarani (penatinta.blogdrive.com/Jakarta), H Tanzil (bukuygkubaca.blogspot.com/Bandung), Nanad Thea (bookzfreak.blogspot.com/Bandung), Mas Baihaqi (qyu.blogspot.com/Bandung), Dumaria Pohan (mon-secret-jardin.blogspot.com/Medan), Ferina (lemari-buku-ku.blogspot.com/Jakarta), Jody Pojoh (jodypojoh.blogdrive.com/Jogja), Sherlock (literature-reviews.blogspot.com/Munich), Agung DH (bukukuno.blogspot.com/Jogja), dan Zen Rachmat Sugito (musyawarahbuku.blogspot.com/Jogja)

Blog-blog yang disebutkan di atas adalah blog-blog yang diisi nyaris setiap pekan dengan resensi buku-buku yang berbeda. Tema dan pilihannya beragam: mulai dari melulu resensi buku-buku jadul sampai berkejaran dengan buku-buku baru yang saban diterbitkan penerbit.

Memang, sebagian besar blog yang saya sebut itu belum terdapat kedalaman sebagaimana review buku yang ditemui di koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan media sebangsanya. Tapi di antara para bloger yang saya “paksa” buka mulut, mereka membuat blog itu semata mengungkapkan apa yang dibacanya dan bagaimana membaginya dengan teman-teman yang memiliki kesenangan yang sama dengannya. Mereka seperti tak peduli dengan kedalaman, walau itu perlu.

Bagi saya, mereka adalah pembaca yang ingin bersenang-senang dengan buku. Mereka mencoba melihat buku sebagai barang mainan dan hiburan yang tak perlu dipandang berat, apalagi harus dilihat dengan kaca pembesar segala. Mereka bukanlah pembaca yang dengan mata liar memandang buku sebagai buruan yang harus dicekik hingga putus urat lehernya lalu tertawa puas setelah mangsanya terbantai dan pemilik buku itu tertunduk lesu setelah dipermalukan habis-habisan di hadapan publik.

Dari sintesis berdasar kesamaan rasa senang ini, para bloger buku ini diam-diam membangun komunitas sendiri. Tiap hari mereka bergosip buku, memberitahu buku yang menurut mereka bagus, dan menyapa siapa saja yang datang dan siapa tiba-tiba melenyap. Mereka juga beberapa kali menentukan bagaimana membahas buku bersama dan mengupload hasil resepsi mereka secara bersama-sama. Dan ini sudah berjalan. Pada Senin 9 Juli 2007 buku Middlesex karangan Jeffrey Eugenides tampil secara serentak di 6 blog.

Tak hanya itu. Mereka juga sudah seperti adiktif mengubah nama mereka menjadi tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Dari situ mereka melakukan pembelahan diri menuju ke satu tubuh tanpa mesti harus dirancang dengan njlimet-njlimet, sebagaimana jenis masyarakat tanpa struktur yang dibayangkan Turner. Bukan saja mereka rutin menampilkan buku bacaannya tapi menjurus pada pembuatan milis buku keroyokan (groups.yahoo.com/kutubukugila) dengan anggota terbatas serta membikin blog film sendiri kalau lelah mengayuh hidup dengan buku (kutubuku-ngomongin-film.blogspot.com).

Dan hal paling serius yang mereka lakukan adalah menyusun kamus unik tentang buku. Menurut Dumaria Pohan dari Medan—pelontar pertama kali sekaligus editor yang mencatatnya di kobochan16.multiply.com/journal/item/46—kamus yang diberi nama Kamus Gaul Kutu Buku ini hadir dari “main-main” yang justru menurut saya sangat serius dan kreatif.

Kata-kata atau lema dikumpulkan dengan cara sukarela yang saya menduga pola itu diinspirasi oleh pola penyusunan kamus Oxford di buku The Proffesor and The Madman karya Simon Winchester. Masing-masing bloger, baik dari Jogja, Bandung, dan Jakarta menyumbang kata beserta artinya yang unik. Misalnya Jody dari Jogja menyebut kata “Buku Kubik” yang berarti buku yang panjang-lebar alias tebal, isinya berat, dan kelas penulisnya tinggi alias berbobot dunia. Pengertian itu merupakan plesetan dari rumus untuk volume (kubik), yakni: panjang x lebar x tinggi.

Ada lagi beberapa lema yang menarik, seperti: Buku Mogok: buku yang tak selesai dibaca karena sifatnya terlalu kubisme (rujuk ke Buku Kubik); Buku Harapan: buku yang menjadi ancang-ancang untuk dibaca; Penggoda Buku: orang-orang yang bikin orang lain jadi ingin beli buku; Maraton Buku: baca buku seperti lari maraton, sambung-menyambung selesai satu buku sambung lagi yang baru dan buku-buku itu dibaca sampai selesai (lawan kata Buku Mogok); Mata Buku-an: orang yang kalau lihat buku (di mana aja) sulit menahan diri untuk tidak beli/pinjam walau di rumah masih menunggu daftar antri yang cukup panjang; dan masih ada beberapa lema yang menggelitik.

Demikianlah, kemunculan generasi perbukuan ini sudah sepatutnya dicatat sebagaimana kita mencatat booming terbitnya buku-buku kiri di tahun 1998 dan luruh pada 2003 atau booming buku-buku seks pada medio 2002 dan luruh pada 2004. Kehadiran mereka adalah patok pada sebuah masa; bukan hanya penanda bahwa kita sedang berada di jalur cepat internet, tapi juga ketika buana ini sedang memasuki tafsirnya yang sangat personal. Dan beberapa penerbit besar seperti Gramedia, Mizan, Serambi dengan cepat bisa menangkap gejala ini dan ringan tangan mengirimkan buku-buku terbarunya untuk “digosipkan” di halaman-halaman blog mereka.

Inilah wajah baru (medium) perbukuan kita. Selamat datang blog(er) buku!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan