-->

Lainnya Toggle

Omi, Ben, dan Riwayat Imagined Communites

Oleh Muhidin M Dahlan

Hampir dipastikan buku Benedict R O’Gorman Anderson berjudul Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism menjadi buku klasik yang menjelaskan hal-ihwal persebaran nasionalisme di dunia. Buku itu tak hanya mendedah sumber-sumber yang kompleks, tapi juga nyaris menjelaskan semua bagaimana ide nasionalisme itu menyebar dalam kereta cepat bernama revolusi cetak (print revolution).

Kehadirannya di Indonesia sebetulnya sudah lama ditunggu para cendekiawan maupun aktivis. Ada 16 tahun rentang waktu dibutuhkan hingga buku itu bisa dibaca secara luas di Indonesia sejak terbit pertama kali pada 1983 oleh sebuah penerbit di New York dan London.

Dan revolusi cetak juga yang mengantarkan buku itu sampai ke Indonesia pada 1999 setelah melewati samudera waktu yang begitu panjang. Judulnya: Komunitas-Komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme.

Buku edisi Indonesia bersampul kuning dengan sepotong leher onta yang nyembul itu tak hanya mengukuhkan kecendekiaan Benedict Anderson, tapi juga memperkenalkan Omi Intan Naomi sebagai penerjemah terbaik yang dipilih Insist Press dan Pustaka Pelajar—dua penerbit yang dipercayakan Ben untuk menerbitkan bukunya.

Bagi Pustaka Pelajar, Omi adalah penerjemah terbaik dengan bahasa terenyah yang pernah mereka miliki dan satu-satunya. Pertemuan penerjemah terbaik dan penulis terbaik dari buku klasik terbaik meniscayakan suatu hasil yang terbaik dan memuaskan. Apalagi Omi mewakili penerbit membubuhkan pengantar yang panjang atas buku itu dengan judul: “Candra Kebangsaan”.

Pasca buku kuning itu terbit, resensi bertebaran di media massa. Dan benar, nyaris tak ada satu pun resensi yang melihat cacat buku itu. Sempurna. Sip deh pokoknya. Puji dan puja menguar dan bising, seakan para pengulas baru saja ketemu dengan harta karun yang sudah lama terpendam.

Tapi tak lama berselang. Kala hujan puji itu mereda, publik dikejutkan ketika pada 2001 terbit buku yang sama dengan judul berbeda dari sebelumnya: Imagined Communities, Komunitas-Komunitas Terbayang.

Kata “Imajiner” dari judul sebelumnya diganti dengan “Terbayang”. Pengantar Omi pun menghilang di edisi buku bersampul cokelat itu dan berganti dengan Daniel Dhakidae yang panjangnya nyaris dua kali lipat dari panjang tulisan Omi. Tapi nama Omi masih tercantum di halaman credit tittle sebagai penerjemah.

Rupanya, kata Eko Prasetyo, editor Insist Press kala itu, setelah buku edisi pertama dan aslinya dikirimkan ke Ben sesaat setelah terbit, Ben masygul. Dia menemukan banyak sekali konsep nasionalisme yang kabur. Beberapa lagi mesti ditambahkan Ben, misalnya catatan kaki. Dan yang pasti, Ben rupanya tak berkenan dengan gaya bahasa Omi yang cenderung ngepop—atau dalam ungkapan tim editor Pustaka Pelajar, renyah dikunyah. Mungkin kekurangberkenan Ben itu disebabkan oleh gaya tulis Ben sendiri yang memang akademis.

Maka Ben pun mengambil langkah menyelaraskan kembali terjemahan itu. Alasannya, ada beberapa hal yang mesti dikontekstualisasikan dengan perkembangan politik pasca Orde Baru.

Salah satu muridnya, Rizal Malik, juga turut membantu. Rizal Malik ini yang pertama kali, bersama Mansoer Faqih (alm.) dari Insist Press, yang mengusahakan penerbitannya ke Pustaka Pelajar.

Hasil keroyokan para pakar seperti Daniel dan Rizal atas terjemahan Omi Intan Naomi itu tentu saja menguntungkan pembaca karena kualitas buku yang mereka beli lebih terjamin kualitasnya. Di luar itu, karya “yang ditunggu-tunggu ini” melibatkan sepotong nama yang raganya nyaris tak pernah muncul di publik, yakni Omi Intan Naomi.

Jadi, membaca riwayat hadirnya Imagined Communites di Indonesia adalah juga berarti membaca riwayat Omi Intan Naomi sebagai penerjemah; terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang sudah disampaikan Pak Ben.

6 Comments

wawan tukang ngimpi - 28. Okt, 2009 -

saya sendiri cenderung berpendapat, seorang ahli di bidangnya akan lebih bisa “menerjemahkan” ASAL tahu penyampaian bahasa indonesia yg asyik 🙂

imagined communities sepembacaan saya bisa masuk akal kalau diterjemahkan jadi “masyarakat bayangan” atau tetep masuk akal juga kalau disebut “masyarakat buatan” asal pembaca tidak terlalu menuntut adanya kedapatdiwakilian kata community dengan masyarakat, hehehe

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan