-->

Lainnya Toggle

“Aku Kenal Lewat Tulisan, Dia Kenal Lewat Lukisan”

Oleh Ugo Untoro

Pertengahan 80-an, aku masih berseragam putih biru, di daerah asalku, Purbalingga, Jawa Tengah. Ketika itu keluargaku berlangganan Kartini, Femina, Gadis, juga Hai, aku kerap membaca majalah-majalah tersebut. Dari sanalah aku mengenal sebuah nama Omi Intan Naomi. Agak aneh pendapatku tentang tulisan Omi, justru dari keabsurdan tulisannya itulah yang membuatku penasaran, siapa Omi sebenarnya. Meski lewat tulisan aku cukup kagum pada sosoknya. Di usia yang terbilang muda kala itu Omi membuat tulisan yang tak mudah dimengerti oleh kebanyakan orang.

Beberapa tahun berselang, tepatnya akhir tahun 80-an aku tiba di Kota Yogyakarta. Statusku saat itu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI). Dan aku masih belum mengenal apalagi bertemu dengan Omi. Aku terkejut, ternyata Omi yang selama ini aku kagumi lewat tulisan-tulisannya adalah kakak Bunga Jeruk adik tingkatku di ISI. Tapi aku tak pernah bertemu muka dengannya, sesekali aku mengirim salam untuknya.
Melalui Bunga akhirnya aku bisa mengenal dan bertemu langsung dengan Omi, sekitar tahun 95 aku bertemu langsung dengannya. Tak kuduga sebelum pertemuan darat kami, Omi juga sudah mengenalku, setidaknya namaku. Dia mengenalku lewat lukisan. Tak sedikit tulisan-tulisan Omi tentangku juga lukisan-lukisanku. Aku tak menduga dia pemerhati karya-karyaku rupanya. Tahun 1994 pameran pertamaku. Dari situlah rupanya Omi pertama kali melihat, mulai tertarik, dan terus mengamati sampai kami berkenalan.

Bertemu muka dengan Omi membuatku semakin mengenal sosoknya. Bagiku Omi adalah perempuan yang terlalu pintar. Barangkali latar belakang keluarga yang keras dan banyaknya bacaan yang dilahapnya semenjak kecil membentuknya menjadi seorang perempuan yang keras, cerdas, tangguh, tegas, jujur, tapi juga angkuh. Tak jarang ketika suasana hatinya sedang tidak sreg dia enggan menerima siapa pun, bahkan tak segan ia mengusir orang yang berani mengusiknya.

Aku tak ragu untuk menyebut Omi sebagai penulis yang paling independen. Dia menulis apa saja yang ingin dia tulis. Dia tak mempedulikan orang lain. Apa yang menurutnya baik akan ditulis ya itulah yang baik. Begitu pula sebaliknya. Sampai sekarang aku masih menyimpan tulisan Omi semasa SMP dulu.
Lagi-lagi Omi membuatku terkejut. Kira-kira tiga bulan sebelum Omi meninggal seorang kawan datang padaku. Dodo namanya. Ia memberikan sebendel tulisan Omi tentangku. Aku tak tahu dari mana Omi mendapat semua informasi seputar kehidupanku. Sementara Omi sendiri tak pernah mewawancaraiku. Tak heran jika ada beberapa kesalahan dalam penulisannya. Rencana menerbitkan buku itu tentu saja ada. Aku mulai mencari sponsor. Omi hanya meminta 15 juta untuk jerih payahnya. Aku menawarkan lukisanku untuk dijual sebagai biaya cetak buku. Sayang belum sampai buku itu tercetak Omi meregang nyawa.
Istriku, Yayuk, rupanya pernah ditanya Omi. Kepada Yayuk Omi menyatakan keheranannya padaku. Dia juga bertanya pada Yayuk seputar pertemuan kami, sampai akhirnya menikah. Pertanyaan yang menggelitik adalah mengapa Yayuk mau menikah denganku.

Rupanya kawanku Dodo yang menyarankan Omi untuk menulis tentang perupa. Ada tiga nama disodorkan Dodo. Ugo Untoro, Teddy, dan Bob. Omi memilihku: si Ugo Untoro ini. Sampai sekarang aku tak tahu pasti apa yang membuat Omi memilihku. Meski Omi menulis tentangku, aku masih jarang bertemu Omi. Sesekali aku menyambanginya, namun itu pun tak pernah lama. Sebentar saja hanya untuk melihat keadaannya.
Sayang sekali Omi tak panjang usia. Aku terkejut mendengar kabar tentangnya. Terlebih istriku. Dia cukup dekat dengan Omi, terutama setahun terakhir. Dan dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Omi. Yayuk melihat wajah Omi untuk pertama dan terakhir ketika tubuhnya telah terbujur kaku. Yayuk menangis tersedu. Wajah Omi terlihat bersih, ia juga tampak ternyum. Mirip Bunda Maria, demikian aku dan istriku menyebutnya. Hanya saja matanya yang terlihat galak.

Aku mengenal Omi lewat tulisan, Ia pun mengenalku melalui lukisan. Aku mengagumi tulisan Omi demikian pula Omi yang juga mengagumi lukisanku. Namun ia tak pernah mau aku lamar!

Ugo Untoro, seniman lukis Jogja. Artikel ini transkrip percakapan dengan wartawan Iboekoe, Fadila Fikriani Armadita

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan