-->

Esai Toggle

Kabar Buruk dari Perpustakaan Kediri

Oleh Editor

Kabar buruk itu datang juga ketika di bulan Juni saya menyambangi Perpustakaan Kediri. Jadwal telah disusun dan bayangan pun telah padat dalam pikiran, bahwa saya akan bertemu dengan wajah kota tua yang eksotik, kota dengan catatan pengalaman setebal Gunung Kelud, dan aura perpustakaan menggetarkan; yang tatkala menerobos masuk ke dalamnya serupa memasuki genisa-genisa Mesopotamia yang masyhur di mana bau-bau kertas tua segera menyumpal pernapasan.

Namun perpustakaan itu terkunci rapat di Sabtu panas. Beberapa kali saya tempelkan muka di lempeng kaca jendela yang membuat saya agak ragu, benarkah ini perpustakaan sebuah kota yang berusia sealaf lebih di mana di sana semua sejarah kota terdokumentasi dengan baik. Sebab yang tampak di dalam dua patung logam berdiri setinggi loteng. Di luarnya ada lempeng prasasti yang bertuliskan Museum Mas Trip. Perpustakaan?

“Itu memang perpustakaan, Mas. Nggak tahu juga mungkin di atasnya. Hari Sabtu kayaknya libur. Tapi hari-hari biasanya ramai parkir motor di situ,” kata seorang pamongpraja di pos “jagamonyet” di kantor sebelah yang saya temui.

Perpustakaan yang bercat putih kusam dan toilet yang sangat kotor di lantai dasar itu saya tinggalkan untuk keesokan Seninnya datang lagi. Saya mesti melewati patung di bawah dan sanggar pramuka di lantai 2 untuk sampai ke ruang perpustakaan di lantai 3 dengan membawa satu pertanyaan mengapa perpustakaan ini harus tutup Sabtu.

Dan saya pun menerima jawaban yang sudah terduga dari kepala Perpustakaannya, bahwa tutupnya mengikuti jadwal kantor pegawai negeri dan bukan jadwal belajar masyarakat. Padahal di depan perpustakaan itu sekolah tetap hidup dan siswa-siswanya berkeliaran di jalanan.
Bahkan, perpustakaan ini pun tak punya nomor telepon mandiri, melainkan masih netek di kantor pemerintah kota. Persis usus birokrasi umumnya. Berbelit-belit. Tampaknya perpustakaan ini hanya dianggap sepele dalam sebuah kota legendaris seperti Kediri. Kehadirannya adalah sebuah ironi sambil lalu. Mendapatkan penghormatan literasi dari sini hanyalah angan-angan barbar.

Buku-buku di dalamnya pun kebanyakan buku yang sudah kadaluwarsa. Berharap mendapatkan sejarah kota dan sepak terjang penguasa dan parlementarianya yang memadai dan tak dikoleksi satu pun perpustakaan di Indonesia adalah kesia-siaan. Pun yang ada, alamak, hanyalah Memori DPRD Tingkat II 1977 Kotamadya Kediri.

Saya mencoba mencari peruntungan kalau-kalau ada buku penulis dari Kediri. Tak ada. Atau penerbit dari Kediri. Juga tak ada. Lalu saya bertanya kepada Kepala Perpustakaannya berapa jumlah koleksi di perpustakaan ini. “Tak tahu. Yang tahu staf saya. Lagipula saya hanya diangkat di sini,” katanya yang membuat saya bingung dengan kata “hanya diangkat”.
Lalu saya bertanya seasalnya, “Berapa nomor telepon perpustakaan?” Beberapa saat sibuk membuka arsip-arsip di atas meja, lalu menjawab perlahan: “Tak tahu. Staf saya yang tahu.” Apa saja kegiatan perpustakaan ini selain rutin menjadi transaksi pinjam-meminjam. “Biasanya ada lomba mengarang.” Saya bertanya apakah itu program untuk saat ini? “Bukan. Saya kan masih 1,5 tahun di sini. Jadi belum melakukan apa-apa,” katanya.

Dengan sedikit putus asa saya beralih ke salah satu staf di meja paling depan. Seorang perempuan lulusan D3 Perpustakaan Airlangga. Bertanya saya: “Adakah Rendra?” Jawab: “Tak ada.” Adakah Goenawan Muhammad?” Jawab: “Siapa itu, Mas. Kayaknya nggak ada. Tapi perasaan pernah saya baca nama itu di koran.” Chairil Anwar, katanya, ada tiga biji, tapi tak satu pun saya lihat tampangnya. Putu Wijaya satu, terselip di buku anak-anak. Pram ada, tapi entah di mana. Kebanyakan buku sastranya buku tipis keluaran Balai Pustaka lama yang sampulnya sudah lecet-lecet dan di sisi kanan atasnya selalu tertulis: “Tidak Diperdagangkan”.

Di ruangan temaram yang miskin penerangan itu saya gagal total bertualang mengikuti rute-rute perjalanan kota ini atau melihat aksi Mpu Baradah mengucurkan air dari kendi untuk membelah Kediri menjadi dua bagian yang kemudian dikenal dengan Daha dan Panjalu. Dada saya pun gagal tersengal-sengal menyaksikan pasukan Kediri yang lari kocar-kacir mendapat serangan kilat pasukan Tartar yang diboncengi Raden Wijaya via Brantas.

Saya ingin mendapatkan lagi cerita itu langsung dari kotanya sendiri, tapi musykil. Lalu bagaimana menyalahkan masyarakat pelajar Kediri yang tak rajin membaca, jika perpustakaan kotanya berdiri dengan niat setengah-setengah dan malas membujuk masyarakat membaca. Lagi pula dari genealogi sejarahnya, perpustakaan ini muncul dari ide veteran-veteran perang di bawah naungan Yayasan Trip, dan bukan kesadaran utuh pemerintah kota akan pentingnya perpustakaan sebagai pelita pemandu kecerdasan masyarakat. Apalagi perpustakaan ini dikelola dengan memakai naluri pegawai negeri yang miskin inovasi, bukan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.

Saya memang tak tahu berapa besar dana yang disisihkan pemerintah kota dalam perawatan dan pengembangan perpustakaan yang “menumpang” di Museum Trip ini. Saya menanyakannya kepada Kepala Perpustakaan, tapi disuruh langsung bertanya saja ke Pemerintah Kota. Namun melihat kusamnya dindingnya, minimnya koleksi, serta sepinya kegiatan perbukuan akibat miskin inovasi para penjaganya, pastilah hanya sedikit. Padahal besar kecilnya dana itu menunjukkan pemihakan atas pentingnya literasi dalam sebuah kota yang kaya pengalaman hidup seperti Kediri. Apalagi kota ini dianugerahi tanah-tanah pertanian yang luas dan juga menjadi salah satu kota dari 7 kota yang memproduksi rokok terbesar di Indonesia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan