-->

Literasi dari Sewon Toggle

Apa Susahnya Menerbitkan Buku Sendiri

Oleh Muhidin M Dahlan

Di suatu malam yang bingar, Puthut EA berceloteh panjang lebar. Puthut EA adalah seorang penulis fiksi masa depan asal Yogyakarta. Saya tak tahu, malam itu ia mabuk berat atau sedang kumat gilanya. Tawanya sungguh berderai-derai disertai dengan tubuh tambunnya yang bergerak dan perutnya yang bulat mengombak-ombak menahan tawa tergeli-geli. Beberapa kali harus berguling-guling di lantai berkarpet merah tua oleh sebab bahakan tawa yang tak tertahankan.

Dan malam itu ia sedang berceloteh tentang kematian penerbit.

“Sebentar lagi, mampuslah kalian para penerbit. Ini dia, Puthut EA, akan membuat sebuah naskah besar. Dan naskah itu akan saya terbitkan sendiri. Sampulnya saya kasih kawan membuatnya. Pemasaran saya serahkan semuanya kepada distributor dengan sistem Giro (Bilyet Giro-red). Tinggal nunggu empat bulan sampai dana cash cair. Nah, sambil nunggu itu saya mempersiapkan naskah baru.

“Dan mati konyol kalian penerbit, nggak dapat naskah. Akan saya umumkan semua ini kepada penulis-penulis Indonesia bahwa saatnya tidak menyerahkan naskahnya kepada penerbit. Ada cara yang jitu untuk menerbitkan sendiri karya. Tinggal buat naskah pracetak dan nggak usah direpotkan oleh distribusi dan royalti aman. Huahuahahahahahaha. Huahahahahahaha. Dan sebentar lagi penerbit akan kurus kering. Nggak dapat naskah dari penulis. Huahahahahahahahaha.”

Anggapan saya malam itu, Puthut memang sedang kumat dan ditambah oleh cekikan minuman beralkohol berkadar tinggi. Tapi kata-katanya itu sungguh cerdas. Dan memang, kerap otaknya memang encer kalau sedang mabuk. Betapa tidak, idenya itu lho sungguh brilian dan menggelitik, yakni ingin menerbitkan karya sendiri. Gagasan asing dan agak jauh dari riwayat pemikiran penulis sebelumnya bahkan hingga kini.

Selama ini penulis sudah terkotak dengan pemikiran bahwa untuk bisa lahir naskahnya menjadi buku perlu bantuan penerbit (mapan). Dan untuk itu menjadi pemandangan yang lazim bila penulis harus menenteng karyanya dan masuk dari satu pintu penerbit ke pintu penerbit lain untuk menjajakan naskahnya. Dan kalaupun diterima harus menunggu daftar panjang penjadwalan untuk sampai pada giliran terbit. Dan kalaupun sudah dicetak dan disebar ke toko-toko buku, masih dipusingkan dengan royalti yang dikemplang dan sang penulis akan keluar masuk lagi ke pintu penerbit untuk menagih. Pun bila bukunya sudah terjual di pasar, penulis tak langsung bisa mencicipi semua royaltinya, melainkan royalti itu akan dicicil dan diteteskan oleh penerbit secuil demi secuil. Bahkan banyak betul penerbit partikelir yang tak mau melapor dan membayar royalti kalau tidak ditagih secara ekstra rajin dengan muka ditebal-tebalkan.

Menerbitkan karya sendiri adalah satu cara dan terobosan baru untuk menghindari tetek bengek seperti itu. Umumnya yang dikeluhkan oleh penulis adalah modal awal cetak dan distribusi buku. Sungguh mendistribusikan buku sendiri adalah pekerjaan yang mutlak sibuk dan sedikit demi sedikit akan menggerus praktik menulis yang sudah dibangun sedemikian rupa dan dijaga kontinuitasnya. Tapi bukankah menagih royalti kepada penerbit nakal juga menguras tenaga dan bisa jadi membangkrutkan imajinasi dan marah-marah tak keruan juntrung. Apalagi bila tahu ditipu habis-habisan oleh penerbit?

Untuk soal modal awal cetak, barangkali cara klasik yang bisa dilakukan adalah dengan cara membongkar tabungan pribadi—kalau memang tabungan itu ada dan cukup tersedia. Katakanlah, untuk buku yang tebalnya hanya 200 halaman, penulis mengeluarkan dana produksi sebesar 4 jutaan rupiah. Tak terlalu besar bukan? Tapi kalau itu masih memberatkan, jangan khawatir ada cara lain, yakni bekerjasama dengan pihak distributor untuk mendanai dan mereka yang akan menalangi dana awal produksi. Carilah distributor itu. Biasanya ada dua cara yag dilakukan distributor. Kalau mereka memiliki dana cashflow yang mencukupi, mereka akan menyerahkan dana tunai kepada kita. Tapi bila dana cashflow itu tak ada, maka sistem yang diberikan adalah dengan pembayaran tunda sekian bulan yang biasa memakai transaksi kertas Bilyet Giro. Dan ada percetakan yang mau dibayar dengan sistem seperti ini. Dengan catatan tentu saja: distributor yang bersangkutan yang akan menjadi distributor tunggal. Di beberapa kota, terutama sekali di Yogyakarta, beberapa distributor buku mau dan berendah hati menalangi dana-dana taktis awal seperti ini.

Yang hanya kita lakukan setelah buku usai dituliskan adalah membuat pracetak. Mulai dari pengeditan, desain isi, desain sampul, koreksi, dan proofreading. Ada lagi, kalau ingin sedikit sibuk: mencari percetakan yang murah meriah, membuat separasi film untuk sampul dan menyerahkannya ke percetakan sampul, mencetak plate untuk isi, dan seterusnya.

Kalau tak ingin repot, ya sudah serahkan saja semuanya kepada percetakan. Yang perlu disiapkan hanyalah naskah dan desain sampul yang sudah dalam bentuk film reparasi. Dan percetakan yang akan melakukan tugasnya sampai selesai. Tinggal ongkang-ongkang kaki sampai tiba saatnya percetakan memberitahu bahwa buku selesai cetak dan kita membawanya ke distributor dan membuat faktur tanda terima penjualan. Selesai. Tinggal kita menunggu buku kita berbaur dengan buku yang lain di rak-rak toko buku untuk berjuang merebut hati dan gapaian tangan pembeli untuk merogoh dompetnya. Sambil menunggu perjuangan buku tersebut merebut hati pembeli di rak-rak toko buku, bolehlah sang penulis lenyap untuk sementara waktu sekian bulan dalam rangka menulis buku berikutnya.

Tapi satu catatan: sistem Bilyet Giro juga bukannya bebas risiko. Jika tak laku pihak distributor mengembalikan buku kepada sang penulis. Bila sejumlah dana yang tertera dalam kertas giro sudah cair, maka penulis berhak menggantinya. Dan biasanya dengan buku baru. Tapi itu tergantung perjanjian awal di atas kertas bersegel antara penulis dan penerbit. Tapi begitulah, bukan usaha namanya kalau bebas dari risiko. Bukankah semua usaha dan kerja memendam risikonya masing-masing? Jadi hadapi saja.

Seperti saya katakan tadi, jika buku yang bersangkutan tidak dibiayai oleh distributor tapi dari kantong penulis sendiri, maka sang penulis berhak memberikannya kepada distributor yang disukai dan dipercayai. Jadi bukan memakai jalur distributor tunggal. Bebas. Tapi ada satu risiko yang akan ditanggung oleh penulis sekiranya buku di pasaran tidak laku. Yakni, distributor yang bersangkutan berhak mengembalikan buku kepada penerbit yang dalam hal ini penulis sendiri. Tapi kalau yakin bahwa buku Anda pasti habis sekian bulan, maka bisa mencari alternatif distributor lain yang tidak memakai sistem Bilyet Giro. Yakni dengan sistem konsinyasi (titip barang: yang laku dibayar. Jika tidak barang kembali kepada si penitip) dengan persentase rabat yang mereka ambil jauh lebih kecil dibandingkan dengan distributor yang memakai sistem Giro. Dengan sistem konsinyasi, Anda hanya menunggu laporan setiap bulannya berapa buku Anda laku. Dengan sistem ini, stok dana sang penulis akan mengalir terus setiap bulannya.

Dengan memilih menerbitkan sendiri, dengan meluangkan waktu sebulan untuk sibuk mengurus percetakan buku, tentu bukan jadi masalah yang sungguh memberatkan, bukan? Niatkan saja, bahwa buku itu adalah bakal bayi Anda, dan Anda sebagai orangtua sang bayi bertanggung jawab mengurus sendiri persalinannya hingga nongol ke dunia secara sehat dan sempurna hingga masa penyapihan datang. Dan Anda berbesar hati merelakan waktu untuk melihat buku itu terbit dengan/dan tanpa harus menanti nomor urut yang panjang dari penerbit.

Bagaimana, cukup menantang bukan? Tak ada salahnya bila dicoba!

* Catatan yang disarikan dari pengamalan pribadi menjadi penulis dan menerbitkannya sendiri

11 Comments

pay jarot sujarwo - 18. Jul, 2007 -

pertanyaan berikutnya adalah. bagaimana seandainya buku yang kita terbitkan sendiri kemudian laku keras di pasaran, diketahui segala lapisan masyarakat, termasuk masyarakat yang ‘resek’ yang bersembunyi dibalik instansi bernama pajak lah, ngeributin soal perizinan lah, badan hukum lah. dlsb. untuk di kota-kota besar yang sebagain masyarakatnya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mungkin persoalan ini ga terlalu dipusingkan. tapi di daerah kecil? hmm, tak menutup kemungkinan instansi ndak gaul seperti perpajakan dan semacamnya, atau sekadar orang iri, akan ikut ambil bagian dalam upaya mencegah penulis yang menerbitkan bukunya sendiri menjadi kaya. kalau begitu kejadiannya, gimana bung?

eskage - 04. Jul, 2009 -

Ya karena sudah laku keras,dan maju, tinggal sewa aja pengacara. Sukur-sukur pengacaranya itu teman sendiri, jadi murah deh… Aparat yang mengacaukan hukum harus dilawan dengan hukum

rain - 17. Jul, 2009 -

yaaa bayar pajak lah!

toyi - 24. Sep, 2009 -

Apa perlu akte notaris bahwa kita adalah penerbit? ISBN gimana?

IBOEKOE - 25. Sep, 2009 -

Nggak perlu akte2an kalau membuat penerbitan. Yang penting ada naskah. Ada stempel. Ada kop surat. Ngajukan surat permintaan ISBN ke Perpus Nasional. Selesai. Cetak. Jadi itu penerbit. Kalau ingin penerbitan itu dirancang jadi lembaga yang besar, tak ada salahnya membuatkannya Badan Hukum. Yayasan Indonesia Buku, misalnya, memiliki badan hukum. Tapi penerbitnya nggak perlu. Lagi pula, penerbitannya yg muncul duluan. Dirasa penting memiliki badan hukum dan dikelola secara profesional, akhirnya yayasan yang menaunginya dibuat. Demikian. Terimakasih.

diana - 26. Sep, 2009 -

Mas Toy, Begini,
Untuk menerbitkan buku(atau bentuk terbitan lainnya), asal ada ISBN sudah bisa terbit. Kalau dulu jaman orba memang mesti ada SIUP, sekarang tidak lagi. ISBN sendiri dapat diurus ke Perpustakaan nasional dalam beberapa jam dengan membawa surat pengantar dari penerbit (lengkap dengan kop surat dan stempel) yang menerangkan latar belakang penerbit dan ringkasan isi buku plus daftar isi. Bisa datang langsung bisa pula melalui surat. Bila suat tentu lebih lama waktunya.

Legalitas yang diperlukan adalah lembaga penerbitannya(bukan terbitannya). Jika ingin profesional, maka yang menerbitkan hendaknya berbentuk lembaga (bisa organisasi, LSM, Yayasan, CV,PT,dll. Peraturannya mengikuti aturan masing2 lembaga. Jika Yayasan maka mengikuti UU Yayasan. Jika LSM dan organisasi mengikuti prosedur pendaftaran di notaris dan pendaftaran di bakesbang. Jika CV/PT mengikuti aturan UU PT.dst. Ini semua diperlukan, hubungannya dengan kewajiban pajak, dan bila ada perjanjian hukum yang terjadi, masing-masing pihak bisa mendapat perlindungan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.(misalnya perjanjian penulis-penerbit, jual-beli,distribusi, penanaman modal, dll)

Namun jika barang terbitan itu tidak diniatkan untuk profesional, hanya untuk kalangan terbatas, maka ISBN saja sudah cukup. Tapi bila ada resiko pembajakan, dan kasus2 hukum, prosesnya akan lebih rumit. Begitu kira2.

eko - 30. Okt, 2009 -

saya suka dengan gaya tulisan ini. ringan dan mengalir lancar. membacanya pun tidak perlu dengan dahi berkerut 🙂

saya setuju dan sependapat. suatu saat penulis memang harus mandiri. maju terus penulis indonesia…

Ali syahaba - 08. Apr, 2010 -

Saya udah di tolak 18 kali oleh penerbit, makanya saya berencana menerbitkan sendiri buku saya itu..

Ali syahaba - 08. Apr, 2010 -

Tolong cara2 yang lebih detail menerbitkan dan memasarkan buku saya itu

Emkate - 16. Apr, 2010 -

Saya sangat setujuuuu…! Ini adalah hak seorang intelektual yang mampu menulis dan menerbitkan buku sendiri, kenapa tidak !!! Kita kan punya visi-misi untuk memajukan anak bangsa, masa kita takut.

Maju terus teman-temanku Penulis !!!
Jangan mundur sbg Profesi Penulis !!!

Salam,
Emkate

Muhsyanur Syahrir - 21. Feb, 2011 -

Salam intelektual,…
Selama niat yang baik demi mencerdaskan orang-orang di Tanah Air ini, mengapa tidak kita menulis….!!! Baca, baca, dan baca…. Iya kan..???

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan