-->

Kronik Toggle

Mizan Terbitkan Buku ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’

Jakarta:Penerbit Mizan malam ini meluncurkan buku setebal 548 halaman yang berjudul ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’ untuk mengenang 100 hari wafatnya Munir.

Selain istri almarhum, Suciwati, beberapa tokoh masyarakat, aktivis hak asasi manusia, seniman, dan sekitar 200 orang lainnya hadir dalam peluncuran buku ini. Beberapa tokoh yang hadir antara Syafei Maarif, Mustofa Bisri (Gus Mus), Todung Mulya Lubis, Butet Kertarajasa, W.S. Rendra, dan Iwan Fals.

Usai serah terima buku dari Mizan kepada Suciwati, buku dengan editor Jaleswari Pramodhawardari dan Andi Widjajanto ini, diserahkan pula oleh Suci ke lima orang lainnya. Mereka yang menerima buku tersebut adalah Gus Mus, Syafei Maarif, dua orang guru kembar, dan Sumiarsih (ibu dari korban penembakan mahasis di Semanggi, Jakarta).

Dalam kata sambutannya, Suciwati tidak dapat menahan kesedihannya. Dia mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kepergian almarhum dengan cara yang tidak manusiawi itu. “Mengapa engkau yang mesti dibungkam, mengapa dirimu yang mereka pilih untuk dihilangkan” kata Suciwati.

Suci mengatakan buku ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’ ini amat berarti baginya dan kedua anaknya, Alif dan Diva. Dua orang anaknya hingga saat ini selalu bertanya tentang ayahnya. Melalui buku ini, Suciwati berharap, kelak kedua anaknya akan memahami perjuangan ayahnya. “Diva dan Alif, buku ini jadi saksi buat kalian akan jejak-jejak langkah abahmu,” katanya.

Suci juga menyatakan tekadnya untuk terus mencari keadilan buat suaminya. Dia amat mnyesali Presiden yang tidak menyetujui dibentuknya tim investigasi independen untuk kasus Munir. “Dengan gampangnya kasus ini dianggap ringan oleh kepala negara meski sudah menjadi sorotan,” katanya.

Sementara itu, para tokoh yang hadir juga turut memberikan kata sambutan dan komentar tentang Munir. Todung Mulya Lubis, teman dan juga aktivis hak asasi manusia mengatakan, Munir adalah sang kreator pembela hak asasi manusia. “Tidak hanya dari pengadilan ke pengadilan Munir membela HAM, tapi juga dari demo ke demo, kota ke kota, diskusi ke diskusi,” kata Todung.

Sedangkan Butet Kertarajasa yang mendapatkan kesempatan membacakan puisi, memplesetkan karya Chairil yang berjudul ‘Antara Karawang Bekasi’, dia ganti menjadi puisi berjudul ‘Antara Jakarta Amsterdam’. W.S. Rendra menyampaikan puisi yang khusus yang dia tujukan untuk istri Munir, Suciwati. Di penghujung acara, tampil Iwan Fals yang menyenandungkan tiga buah lagu khusus untuk mengenang munir.

Khairunisa – Tempo

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 17 September 2004

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan